Senin, 4 Maret 2024

Polisi Tak Pidanakan Joki Vaksin di Semarang, Ini Alasannya

Murianews
Rabu, 5 Januari 2022 21:14:46
Patiayam, salah sati tempat wisata di Kudus. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)
[caption id="attachment_262619" align="alignleft" width="880"] Tiga wanita tertangkap basah terlibat dalam perjokian vaksin di Semarang. (Foto Angling Adhitya Purbaya/detikcom)[/caption] MURIANEWS, Semarang – Kasus joki vaksin yang dilakukan emak-emak berusia 41 tahun berinisial DS dipastikan tidak dibawa ke ranah hukum atau pidana. Ini lantaran, polisi menilai praktik perjokian vaksinasi tersebut belum sempat terjadi. Kapolrestabes Semarang Kombes Irwan Anwar mengatakan, praktik joki tersebut sebenarnya berhasil dibongkar oleh petugas medis dan kepolisian sebelum vaksin disuntikkan. Akibatnya, proses perjokian tersebut belum terjadi. Baca: Polisi Tangkap Joki Vaksin di Semarang, Pelakunya Emak-Emak "Selanjutnya nanti kita akan musyawarahkan karena ini kan peristiwa belum sempat terjadi. Tapi yang ingin kami sampaikan, ini jangan menjadi contoh. Karena tindakan ini, tidak membantu pemerintah dalam penanganan penanggulangan wabah," kata Kapolres seperti dikutip Detik.com, Rabu (5/1/2022). Ia menjelaskan, peristiwa itu melibatkan tiga ibu-ibu berinisial CL (37), IO (48), dan DS (41) di Puskesmas Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, Senin (3/1/2022). Saat itu, DS tertangkap basah mengikuti vaksin dengan kartu identitas milik orang lain. Petugas medis yang curiga lantas melakukan pemeriksaan dengan berkoordinasi bersama pihak kepolisian. “Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata DS diminta menjadi joki vaksin oleh CL (37). Kedua orang itu dipertemukan melalui seorang perantara bernama IO (48),” ungkapnya. Baca: Emak-Emak Joki Vaksin di Semarang Ngaku Dibayar Rp 500 Ribu Sedangkan CL mengaku mencari joki karena dia pernah kena Covid-19 dan punya penyakit komorbid. Selain itu, ia juga membutuhkan keterangan sudah divaksin untuk pergi ke luar kota pada tanggal 3 Januari 2022. Dia kemudian bercerita kepada IO dan meneruskan ke DS dengan imbalan Rp 500 ribu. Irwan hanya memberi peringatan kepada tiga ibu-ibu tersebut. Menurut Irwan, ketiganya sebenarnya bisa dijerat Pasal 14 Ayat (1) UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular dengan ancaman pidana penjara selama-lamanya 1 tahun. Sementara itu, CL yang mencoba mengelak vaksin dengan alasan pernah terpapar covid-19 dan punya komorbid, akhirnya tetap divaksin pada 4 Januari 2022. Ketiga ibu itu kemudian juga memberikan pernyataan permintaan maaf. "Saya pribadi meminta maaf atas kelalaian yang saya lakukan hari ini. Peringatan buat saya dan teman-teman di sini, untuk selanjutnya tidak melakukan kebodohan seperti ini. Saya dan pelapor sudah melakukan mediasi ke puskesmas, kasus tidak dilanjutkan," kata CL.   Penulis: Supriyadi Editor: Supriyadi Sumber: Detik.com

Baca Juga

Komentar