”Jadi lebih dari sekadar memberikan edukasi, kegiatan ini dirancang untuk membangun rasa memiliki (sense of ownership) terhadap kebun TOGA di kalangan Ibu-Ibu PKK Desa Mluweh. Dengan tumbuhnya rasa kepemilikan tersebut, diharapkan seluruh anggota PKK terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam merawat, mengembangkan, dan memanfaatkan kebun TOGA secara berkelanjutan,” tuturnya.
Partisipasi masyarakat, lanjut Jafron, memang menjadi pondasi penting agar kebun TOGA tidak hanya menjadi hasil dari program KKN, tetapi juga berkembang sebagai aset bersama yang memberikan manfaat jangka panjang.
”Dari tim KKN-T Tim 110 KHDTK Wanadipa berharap kebun TOGA dapat menjadi pusat edukasi sederhana mengenai tanaman obat keluarga sekaligus mendorong terwujudnya masyarakat Desa Mluweh yang lebih sehat, mandiri, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan,” tutupnya.
Murianews, Semarang – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tim 110 KHDTK Wanadipa Universitas Diponegoro terus mendorong pemberdayaan masyarakat.
Salah satunya melalui penyosialisasian jenis-jenis tanaman obat keluarga (TOGA) bersama Ibu-Ibu PKK Desa Mluweh, Kecamatan Ungaran Timur.
Kegiatan yang diselenggarakan di kediaman salah satu anggota PKK ini menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kapasitas masyarakat untuk mengelola kebun TOGA secara mandiri sekaligus memperkuat kepedulian terhadap kesehatan dan kelestarian lingkungan.
Dosen Pembimbing Lapangan Jafron Wasiq Hidayat menjelaskan, kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 3 (Good Health and Well-being). Yakni melalui upaya peningkatan pemanfaatan tanaman obat sebagai pendukung kesehatan keluarga.
”Serta SDGs Nomor 11 (Sustainable Cities and Communities) dengan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan,” ucapnya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap keberlanjutan program, mahasiswa KKN-T bersama Ibu-Ibu PKK terlebih dahulu melakukan revitalisasi kebun TOGA yang telah ada.
Pembersihan gulma...
Kegiatan diawali dengan membersihkan gulma di sekitar area tanam, kemudian dilanjutkan dengan penambahan media tanam, pupuk kompos, dan pupuk kandang untuk memperbaiki kualitas tanah sehingga lebih siap mendukung pertumbuhan tanaman.
”Nah setelah proses revitalisasi selesai, kebun TOGA diperkaya dengan penanaman berbagai jenis tanaman, di antaranya kenikir kunyit, jahe, lidah buaya, serai, serta temulawak,” sambungnya.
Perawatan yang dilakukan secara bertahap menunjukkan hasil positif, ditandai dengan mulai tumbuhnya tanaman beberapa hari setelah penanaman.
”Keberhasilan ini menjadi bukti jika pengelolaan kebun secara bersama dapat menghasilkan lingkungan yang lebih produktif dan bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Tidak hanya berfokus pada penanaman, mahasiswa KKN-T Tim 110 juga memberikan sosialisasi mengenai berbagai jenis tanaman TOGA beserta manfaatnya bagi kesehatan.
Melalui kegiatan ini juga, peserta diajak untuk mengenali fungsi setiap tanaman, memahami cara pemanfaatannya, serta menyadari pentingnya menjaga keberlangsungan kebun TOGA sebagai sumber tanaman obat yang mudah diakses oleh masyarakat.
Tidak sekedar beri edukasi...
”Jadi lebih dari sekadar memberikan edukasi, kegiatan ini dirancang untuk membangun rasa memiliki (sense of ownership) terhadap kebun TOGA di kalangan Ibu-Ibu PKK Desa Mluweh. Dengan tumbuhnya rasa kepemilikan tersebut, diharapkan seluruh anggota PKK terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam merawat, mengembangkan, dan memanfaatkan kebun TOGA secara berkelanjutan,” tuturnya.
Partisipasi masyarakat, lanjut Jafron, memang menjadi pondasi penting agar kebun TOGA tidak hanya menjadi hasil dari program KKN, tetapi juga berkembang sebagai aset bersama yang memberikan manfaat jangka panjang.
”Dari tim KKN-T Tim 110 KHDTK Wanadipa berharap kebun TOGA dapat menjadi pusat edukasi sederhana mengenai tanaman obat keluarga sekaligus mendorong terwujudnya masyarakat Desa Mluweh yang lebih sehat, mandiri, dan peduli terhadap kelestarian lingkungan,” tutupnya.