Rabu, 22 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Batu tersebut ditemukan Tim Ekspedisi Sukowati dari Yayasan Palapa Mendira Harja (YPMH) Sragen bersama Pemerintah Kecamatan Mondokan, Sragen.

Melansir Solopos.com, batu itu sekilas seperti batu lumpang atau yoni karena bagian tengahnya ada lubang segi empat. Namun, setelah dilihat ternyata di bagian dalam terdapat sebuah batu berbentuk seperti kubus yang di bagian tengahnya ada lubang bulat berukuran kecil.

Setelah batu kubus itu diambil, di dalam lubang masih terdapat lubang kecil dengan ukuran sisinya 10 cm.

Lokasi penemuan batu berlubang itu berada di lahan pertanian tadah hujan yang permukaannya seperti perbukitan. Lokasi itu dekat Sungai Kedung Ayom, tepatnya sisi utara sungai.

Selain batu itu, juga ditemukan batu pipih berbentuk persegi berukuran cukup besar yang berlokasi di sekitar 100 meter arah barat daya dari lokasi batu itu. Batu pipih itu kemungkinan diduga altar arca yang juga bagian dari candi.

Pengurus YPMH Sragen, Lilik Mardiyanto, mengatakan batu itu merupakan batu andesit putih yang merupakan batu khas Sukowati. Dia mengatakan batu itu bukan yoni, bukan lumpang atau pun ompak.

Dia menduga batu itu adalah benda cagar budaya yang menjadi bagian dari bangunan candi yang biasanya terdapat di bagian depan.
”Kalau memungkinkan di wilayah ini ada candi kemungkinan menghadap ke timur dan kemungkinan candi tua. Sayangnya tidak ada bukti pendukung lainnya. Di bagian barat daya di bawah pohon Trengguli juga ditemukan batu persegi berukuran besar yang diduga merupakan altar patung. Kami masih menyelidiki benda-benda lainnya yang sezaman,” katanya.Batu itu berada di kebun jagung milik Mbah Nyaman, 70, warga Dukuh Klayu, RT 005, Desa Jekani, Mondokan, Sragen. Mbah Nyaman menyampaikan batu itu diketahui saat ada orang pencari batu. Batu-batu yang keras dijual.Dulu lokasinya agak di tengah kebun. Kemudian oleh Mbah Nyaman dipindah ke pinggir di bawah pohon jati supaya tidak menganggu kegiatan bertani.”Di bawah tanah ini kalau digali masih ada batu-batuan, seperti batu bata. Posisinya tidak beraturan. Tidak ada cerita apa pun terkait batu ini. Saya tidur di dekat batu itu pun tidak ada apa-apa. Batu ini sudah lama, ditemukan pencari batu masih zamannya Presiden Soeharto,” jelas Nyaman. Penulis: SupriyadiEditor: SupriyadiSumber: Solopos.com

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler