Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Solo – Pura Mangkunegaran Solo melakukan ritual malam 1 suro, Minggu (7/7/2024) malam. Mereka pun mengkirab enam pusaka dari Dalem Agung atau tempat penyimpanan pusaka ke Pura Mangkunegaran.
Enam pusaka yang dikirab tersebut lima di antaranya berupa tombak dan satu pusaka yang dibawa menggunakan jodang. Selama kirab, pusaka-pusakan tersebut dipanggul langsung oleh para abdi dalem.
Masing-masing pusaka tombak yang memiliki lebar lebih dari dua meter tersebut dipanggul oleh dua orang setelah dijamas menggunakan air kembang.
Bertindak sebagai cucuk lampah atau pemimpin kirab yakni kakak KGPAA Mangkunegara X, Pangeran Sepuh GPH Paundrakarna Jiwo Suryonegoro.
Di belakang Paundra ada sejumlah tokoh yang ikut kirab atau disebut juga tapa bisu. Beberapa di antaranya ada Wakil Wali Kota Surakarta Teguh Prakosa, anggota DPR RI Aria Bima, serta putra Presiden Jokowi Kaesang Pangarep serta istrinya Erina Gudono.
Di belakang rombongan tersebut, diikuti oleh pusaka dan peserta kirab lain. Sebagai rute kirab yakni mengelilingi tembok Pura Mangkunegaran hingga sebagian kecil Jalan Slamet Riyadi untuk kemudian masuk kembali ke Mangkunegaran dengan melewati Ngarsopuro.
Sementara itu, sesuai dengan aturan Pura Mangkunegaran, maka Mangkunegara X atau Gusti Bhre tidak diperbolehkan ikut kirab sehingga hanya melepas rombongan tersebut.
Gusti Bhre hanya menyampaikan doa agar para peserta kirab mengikuti kirab dengan lancar dan selamat.
”Tak sangoni puji pandonga rahayu kanti wilujeng (aku beri doa agar selamat)," katanya.
Usai seluruh peserta kirab meninggalkan halaman Pura Mangkunegaran, puluhan masyarakat berebut air kembang. Sebagian orang mempercayai air kembang membawa berkah.
Salah satu warga dari Kabupaten Karanganyar, Kusumawati, sengaja datang dan berebut air kembang. Ia mengatakan ingin mendapatkan lebih banyak berkah.
”Biar berkah, ini cuma saya simpan,” katanya.
Acara kirab diakhiri dengan menyebar udik-udik atau uang dari keluarga Mangkunegara kepada peserta kirab.



