Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Kerajaan ini Kerajaan dipimpin pasangan suami istri yakni Totok Santosa Hadiningrat dan Dyah Gitarja. Kelompok ini mengklaim sebagai kekaisaran dunia yang muncul setelah berakhirnya perjanjian 500 tahun yang lalu antara Dyah Ranawijaya sebagai penguasa imperium Majapahit dengan bangsa Portugis sebagai wakil orang Barat atau bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka pada 1518.

Munculnya kerajaan ini membuat berbagai pihak angkat suara. Bahkan Polda Jateng mengerahkan satuan intelijen dan reserse serta jajaran Polres Purworejo untuk melakukan pendalaman dan pengumpulan data-data.

"Kami sudah mendapatkan informasi. Dan jajaran intelijen dan reserse umum bersama Polres Purworejo mempelajari. Kami ingin mengetahui motif apa di balik deklarasi kraton tersebut," kata Kapolda Jateng Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel, usai sertijab jajaran kapolres di Mapolda Jateng, Selsa (14/1/2020).

Pengumpulan data tersebut, lanjut dia, berkaitan dengan profil sekaligus aspek legalitasnya. Juga termasuk aspek sosial kultural, dan kesejarahan.

"Negara kita adalah negara hukum. Pertama-tama kita akan mempelajari aspek legalitas," ujarnya.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo juga angkat suara mengenai munculnya kerajaan ini. Ia meminta pementah daerah setempat berkomunikasi dengan orang yang mengklaim pendirian kerajaan tersebut.

Komunikasi itu menurut dia, penting dilakukan untuk membuktikan apakah betul kerajaan itu tercatat dalam sejarah. Bahkan menurut dia, para ahli dari perguruan tinggi juga perlu dilibatkan.

"Sehingga seluruh dokumen, kalau ada, bisa didiskusikan. Jadi bisa diuji secara ilmu pengetahuan," kata Ganjar.

Dilansir dari AntaraJateng, Keraton Agung Sejagat ini mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan acara Wilujengan dan Kirab Budaya, yang dilaksanakan dari Jumat (10/1/2020) hingga Minggu (12/1/2020).
Baca: Raja dan Ratu Keraton Agung Sejagat Purworejo Akhirnya Ditahan PolisiKeraton Agung Sejagat, dipimpin oleh seseorang yang dipanggil Sinuwun yang bernama asli Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya yang dipanggil Kanjeng Ratu yang memiliki nama Dyah Gitarja. Mereka mengklaim mempunyai pengikut mencapai 450 orang.Penasihat Keraton Agung Sejagat, Resi Joyodiningrat menegaskan bahwa Keraton Agung Sejagat bukan aliran sesat seperti yang dikhawatirkan masyarakat.Ia mengatakan Keraton Agung Sejagat merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhir perjanjian 500 tahun yang lalu. Terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai dengan 2018.Perjanjian 500 tahun tersebut dilakukan oleh Dyah Ranawijaya sebagai penguasa imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang Barat atau bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka tahun 1518.Joyodiningrat menyampaikan dengan berakhirnya perjanjian tersebut, maka berakhir pula dominasi kekuasaan Barat mengontrol dunia yang didominasi Amerika Serikat setelah Perang Dunia II. Sehingga kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat sebagai penerus Medang Majapahit yang merupakan Dinasti Sanjaya dan Syailendra. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali MuntohaSumber: AntaraJateng

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini

Terpopuler