Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Meninggalnya dr Lo Siauw Ging pada Selasa (9/1/2024) lalu masih menyisakan duka bagi masyarakat Solo. Dokter dermawan ini memang dikenal sangat dekat dengan warga Solo.
Dokter Lo Siauw Ging meninggal dunia dalam usia 90 tahun. Tokoh ini dikenal di Solo karena sering membantu masyarakat. Sebagai dokter, Lo Siauw Ging diketahui sering memberikan pengobatan gratis.
Bahkan dr Lo Siauw Ging bisa dikatakan mendedikasikan hidupnya untuk pasien, terutama pasien miskin. Saat masih muda, pasien yang datang ke tempat praktiknya bisa mencapai 100 orang setiap hari.
Dilansir dari detik.Jateng.com, kepergian dokter dermawan ini membuat warga Solo kehilangan. Kedermawanannya sangat dikenal masyarakat Solo dan sekitarnya.
Meski demikian, tak semua pasien dr Lo Siauw Ging berasal dari kalangan miskin. Banyak diantaranya juga merupakan orang-orang berada yang memiliki banyak uangg.
Kepada pasien miskin, dr Lo diketahui tidak pernah meminta imbalan, dan justru malah membantu memberikan pengobatan. Sedangkan kepada mereka yang kaya, dr Lo juga tidak memasang tarif dari profesinya sebagai seorang dokter.
Para pasien yang mampu dan memiliki uang, biasanya akan menaruh amplop berisi uang di meja konsultasinya. Sedangka jumlahnya tidak pernah ditetapkan oleh sang dokter.
Dokter dermawan ini bahkan pernah dibayar dengan palawija atau buah-buahan hasil kebun pasiennya. Kebanyakan pasien seperti ini datang dari pedesaan, diantaranya dari Pacitan atau dari Lereng Gunung Lawu.
Warga Solo, terutama yang tinggal di sekitar rumah dr Lo Siauw Ging menyatakan sangat kehilangan. Tokoh yang satu ini sangat dihormati warga Solo.
Kedermawanan dan kebaikannya, mebuat dokter ini sangat dihormati dan bahkan dicintai. Saat pecah kerusuhan rasial di Solo pada Mei 1998, hal ini terbukti saat dr Lo Siauw Ging, tidak mendapatkan perlakuan buruk.
Menurut salah satu tokoh keturunan Tionghoa di Solo, Sumartono Hadinoto, karena warga Solo menyayanginya, kediaman dr Lo sama sekali tidak tersentuh oleh kerusuhan yang mengerikan itu.
"Situasi waktu itu betul-betul mencekam dan kalau aku waktu itu diwawancara sampai sekarang pun aku bilang bahwa kami sebagai Tionghoa Indonesia sebelum Reformasi itu rasanya kayak bukan manusia. Dipukul, dikeluarkan dari rumah, suruh lihat rumahnya dibakar," kata Sumartono seperti dilansir detikJateng.
Namun perusuh sama sekali tak menyentuh rumah Dokter Lo yang juga beretnis Tionghoa itu. Usut punya usut, warga secara sukarela 'pasang badan' melindungi rumah Dokter Lo agar tidak menjadi sasaran rusuh.
Warga di sekitar Kelurahan Purwodiningratan itu rela bergantian berjaga selama berhari-hari hingga situasi dipastikan aman. Menurut Sumartono, warga bergantian menjaga rumah Dokter Lo hingga sepekan.
"Satu kampung itu menjaga waktu rusuh-rusuh Mei 1998, sampai nggak ada yang berani menyentuh rumah dokter Lo, mereka menghalau," kata Sumartono.
Menurutnya, kebaikan hati Dokter Lo memang sangat dirasakan oleh warga di sekitar rumahnya. Rata-rata warga pernah dibantu saat keluarganya sedang sakit.



