Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Semarang – Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto menilai, bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Kabupaten Pemalang, Tegal, dan Purbalingga di kawasan lereng Gunung Slamet belakangan ini dipicu oleh sejumlah faktor.

Namun, curah hujan tinggi serta karakteristik fisik lahan yang curam menjadi penyebab utama rentetan bencana di kawasan tersebut.

Widi Hartanto mengatakan, pada 23–24 Januari 2026, terjadi curah hujan ekstrem mencapai 100–150 mm per hari di wilayah lereng Gunung Slamet. Menurutnya, angka ini jauh di atas batas normal yang idealnya maksimal 50 mm per hari.

”Idealnya curah hujan normal per hari itu sampai 50 mm. Debit air tinggi itu berpengaruh terhadap banjir,” kata Widi dalam keterangan tertulis yang diterima Murianews.com, Rabu (28/1/2026).

Selain hujan, kondisi Sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Penakir—yang mencakup Kecamatan Pulosari dan Moga di Pemalang—memiliki kemiringan lereng yang sangat curam, mencapai 64 perse. Hal ini mempercepat aliran permukaan dan meningkatkan daya kikis air.

Widi menambahkan, jenis tanah latosol coklat yang mendominasi kawasan tersebut memiliki sifat gembur dan mudah jenuh air.

”Sifat tanah yang tidak stabil dan mudah tererosi ini memicu suplai sedimen tinggi yang berujung pada banjir bandang dan pendangkalan sungai di hilir,” jelasnya.

Berdasarkan catatannya, sejak tahun 2022 sudah banyak titik longsoran di kawasan lereng Gunung Slamet.

DAS Penakir...

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini

Terpopuler