Namun, curah hujan tinggi serta karakteristik fisik lahan yang curam menjadi penyebab utama rentetan bencana di kawasan tersebut.
Widi Hartanto mengatakan, pada 23–24 Januari 2026, terjadi curah hujan ekstrem mencapai 100–150 mm per hari di wilayah lereng Gunung Slamet. Menurutnya, angka ini jauh di atas batas normal yang idealnya maksimal 50 mm per hari.
”Idealnya curah hujan normal per hari itu sampai 50 mm. Debit air tinggi itu berpengaruh terhadap banjir,” kata Widi dalam keterangan tertulis yang diterima Murianews.com, Rabu (28/1/2026).
Selain hujan, kondisi Sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Penakir—yang mencakup Kecamatan Pulosari dan Moga di Pemalang—memiliki kemiringan lereng yang sangat curam, mencapai 64 perse. Hal ini mempercepat aliran permukaan dan meningkatkan daya kikis air.
Widi menambahkan, jenis tanah latosol coklat yang mendominasi kawasan tersebut memiliki sifat gembur dan mudah jenuh air.
”Sifat tanah yang tidak stabil dan mudah tererosi ini memicu suplai sedimen tinggi yang berujung pada banjir bandang dan pendangkalan sungai di hilir,” jelasnya.
Berdasarkan catatannya, sejak tahun 2022 sudah banyak titik longsoran di kawasan lereng Gunung Slamet.
Murianews, Semarang – Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah Widi Hartanto menilai, bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah Kabupaten Pemalang, Tegal, dan Purbalingga di kawasan lereng Gunung Slamet belakangan ini dipicu oleh sejumlah faktor.
Namun, curah hujan tinggi serta karakteristik fisik lahan yang curam menjadi penyebab utama rentetan bencana di kawasan tersebut.
Widi Hartanto mengatakan, pada 23–24 Januari 2026, terjadi curah hujan ekstrem mencapai 100–150 mm per hari di wilayah lereng Gunung Slamet. Menurutnya, angka ini jauh di atas batas normal yang idealnya maksimal 50 mm per hari.
”Idealnya curah hujan normal per hari itu sampai 50 mm. Debit air tinggi itu berpengaruh terhadap banjir,” kata Widi dalam keterangan tertulis yang diterima Murianews.com, Rabu (28/1/2026).
Selain hujan, kondisi Sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Penakir—yang mencakup Kecamatan Pulosari dan Moga di Pemalang—memiliki kemiringan lereng yang sangat curam, mencapai 64 perse. Hal ini mempercepat aliran permukaan dan meningkatkan daya kikis air.
Widi menambahkan, jenis tanah latosol coklat yang mendominasi kawasan tersebut memiliki sifat gembur dan mudah jenuh air.
”Sifat tanah yang tidak stabil dan mudah tererosi ini memicu suplai sedimen tinggi yang berujung pada banjir bandang dan pendangkalan sungai di hilir,” jelasnya.
Berdasarkan catatannya, sejak tahun 2022 sudah banyak titik longsoran di kawasan lereng Gunung Slamet.
DAS Penakir...
Menurut Widi, Kawasan Sub DAS Penakir didominasi tanah latosol. Karakteristik tanah Kawasan Sub DAS Penakir rentan terhadap erosi dan longsor, hal ini akibat sifat tanah yang gembur dan mudah jenuh air.
”Banjir bandang terjadi lewat peningkatan limpasan permukaan yang cepat, serta suplai sedimen tinggi akibat sifat tanah yang dangkal, tidak stabil, dan mudah tererosi,” kata dia.
Selain itu, faktor lain yang juga bisa mempengaruhi banjir dan longsor adalah daya dukung dan daya tampung lingkungan. Yaitu kemampuan lahan untuk melindungi dari tekanan. Kalau curah hujan tinggi tetapi tutupan lahan sangat baik atau rapatannya tinggi, maka dampaknya tidak terlalu besar.
Terkait tutupan lahan di kawasan Gunung Slamet sendiri ada yang tutupannya rapat yang ditumbuhi kayu-kayuan atau tanaman keras, juga ada lahan masyarakat yang ditumbuhi tanaman atau tumbuhan semusim.
Menurut Widi, banjir yang terjadi di kawasan tersebut tidak berhubungan dengan aktifitas penambangan. Sebab, aktifitas penambangan berada di bawah di bagian kaki gunung dengan elevasi ratusan meter lebih rendah dari titik longsoran.
Lebih lanjut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan upaya penanganan jangka panjang untuk mengantisipasi bencana banjir dan tanah longsor yang lebih parah. Di antaranya dengan melakukan rehabilitasi hutan dan lahan.
Misalnya di hutan lindung dan hutan produksi yang tutupannya atau tegakannya sudah kurang harus diperbaiki dengan penanaman pohon baik dalam bentuk reboisasi maupun penghijauan.
”Kami ada program itu. Teman-teman seluruh stakeholder juga sudah banyak yang berkontribusi untuk penanaman di kawasan Gunung Slamet. Pemprov Jateng juga sudah mengajukan kepada Kementerian Kehutanan agar kawasan hutan Gunung Slamet menjadi Taman Nasional yang meliputi lima kabupaten,” kata Widi.
ESDM Bantah...
Sementara Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah, Agus Sugiharto mengaku tidak ada aktivitas tambang yang berada di tubuh Gunung Slamet.
”Lokasi tambang berada jauh dari titik longsor. Tidak ada pertambangan yang masuk ke tubuh Gunung Slamet,” tegasnya.
Bahkan pihaknya mengaku merilis peta rawan longsor dengan data prakiraan cuaca dan curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang berada di wilayah Gunung Slamet.
”Setiap bulan kami merilis peta potensi gerakan tanah yang dilengkapi tabulasi curah hujan dan tingkat kerawanan, mulai dari rendah hingga tinggi. Ini kami sebarkan sebagai peringatan dini agar daerah meningkatkan kewaspadaan,” jelas Agus.
Selain itu, Dinas ESDM Jateng juga melakukan penataan kegiatan pertambangan. Apabila pihak-pihak yang melakukan pertambangan tidak menaati aturan, para pelaku akan diberikan surat peringatan.
Dalam aspek penegakan hukum, Agus menegaskan, pemerintah tidak akan ragu menindak tegas pelaku usaha tambang yang melanggar aturan.
Penindakan dilakukan melalui tahapan pembinaan, pengawasan, pengendalian, hingga penertiban terhadap pemegang izin usaha pertambangan.
”Jika setelah dibina dan diawasi masih tidak patuh, maka akan ditertibkan. Bentuknya bisa penghentian sementara, penghentian permanen, hingga pencabutan izin,” katanya.
Taj Yasin...
Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin menyatakan, akan mengusulkan kepada pemerintah pusat agar kawasan hutan lindung benar-benar diperkuat dan mendapat perhatian serius.
Ia menilai, momentum bencana ini seharusnya dimanfaatkan untuk menyatukan langkah lintas daerah, khususnya lima kabupaten di sekitar kawasan hulu Gunung Slamet, agar bersama-sama mengajukan penguatan status dan pengelolaan hutan lindung.
”Nah, momen ini sebenarnya pas untuk bagaimana menyatukan dari lima kabupaten ini untuk berbicara bersama-sama, mengirim bersama-sama berkasnya untuk hutan lindung benar-benar harus kita kuatkan,” jelasnya.