Sebelum memasuki puncak kemarau, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai masa transisi atau pancaroba yang diprediksi terjadi pada April hingga Mei 2026.
”Pada masa tersebut masyarakat diimbau mewaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai petir dan angin kencang, termasuk kemungkinan angin puting beliung serta kondisi cuaca yang terasa cukup panas,” pungkas Teguh.
Murianews, Cilacap – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, kemarau tahun ini diprakirakan memiliki sifat di bawah normal, yang berarti curah hujan akan jauh lebih rendah dari kondisi biasanya.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung, Teguh Wardoyo menjelaskan, awal musim kemarau di wilayah Jawa Tengah (Jateng) bagian selatan akan terjadi secara bertahap mulai Mei 2026.
”Untuk tahun 2026, sifat curah hujan diprakirakan di bawah normal sehingga musim kemarau diprakirakan lebih kering dibandingkan kondisi normalnya,” ujar Teguh di Cilacap, Sabtu (14/3/2026).
BMKG merinci prakiraan awal musim kemarau di beberapa kabupaten. Di Kabupaten Cilacap secara umum dimulai pada Mei dasarian kedua. Namun, wilayah pesisir tenggara seperti Binangun dan Nusawungu diprediksi masuk lebih awal pada Mei dasarian pertama. Durasi kemarau diperkirakan mencapai 140 hingga 180 hari.
Kabupaten Banyumas dimulai bertahap dari wilayah tenggara pada Mei dasarian pertama, hingga wilayah utara dan tengah pada Juni dasarian kedua. Durasi kemarau berkisar antara 110 hingga 180 hari dengan puncak pada Agustus 2026.
Di Kabupaten Purbalingga, awal kemarau diprediksi mulai Juni dasarian pertama di wilayah utara, dengan durasi sekitar 120 hari dan puncak kemarau pada Agustus 2026.
Teguh menyebutkan kondisi tahun ini akan sangat kontras jika dibandingkan dengan tahun 2025. Pada tahun lalu, sifat hujan berada di atas normal sehingga banyak wilayah, termasuk Banyumas, mengalami hujan hampir sepanjang tahun tanpa musim kemarau yang jelas.
Potensi kekeringan...
Karena sifat kemarau 2026 yang lebih kering, potensi kekeringan meteorologis perlu diantisipasi sejak dini oleh berbagai sektor, terutama pertanian dan penyediaan air bersih.
Sebelum memasuki puncak kemarau, BMKG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai masa transisi atau pancaroba yang diprediksi terjadi pada April hingga Mei 2026.
”Pada masa tersebut masyarakat diimbau mewaspadai potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai petir dan angin kencang, termasuk kemungkinan angin puting beliung serta kondisi cuaca yang terasa cukup panas,” pungkas Teguh.