Kondisi Cuaca Ekstrem, Pemprov Jateng Pastikan Stok Pangan Aman
Dani Agus
Selasa, 20 Januari 2026 19:49:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Semarang – Sejak awal tahun 2026 hingga saat ini, cuaca ekstrem masih menyelimuti wilayah Jawa Tengah. Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan persediaan pangan di wilayahnya aman pada kondisi ini.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengatakan, pihaknya terus memperkuat pengendalian harga dan ketersediaan pangan di wilayah provinsi ini. Pengendalian inflasi juga terus dilakukan sepanjang tahun.
”Masalah inflasi selalu kami pantau. Kalau ada gejolak, tentu kami ambil langkah untuk mengendalikan harga di Jawa Tengah,” ujar Sumarno, seusai menjadi narasumber di Studio I TVRI Jawa Tengah, di Jalan Pucang Gading Raya, Mranggen, Kabupaten Demak, Selasa (20/1/2026).
Hingga saat ini, lanjut dia, kondisi harga bahan pokok di Jawa Tengah disebut masih stabil. Pemerintah daerah juga menjaga ketersediaan pasokan dengan menggandeng Bulog, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadan.
Menurut Sekda, Ramadan memang memiliki karakter berbeda dibanding bulan lainnya, karena aktivitas ekonomi masyarakat meningkat selama sebulan penuh. Karena itu, koordinasi lintas daerah sudah dilakukan sejak awal.
Pemprov Jateng juga mengandalkan sistem pemantauan harga, yang selama ini berjalan di pasar-pasar tradisional.
Terkait cuaca ekstrem yang memicu gagal panen di sejumlah daerah seperti Pati, Jepara, dan Kudus, dan Grobogan, Sumarno menyatakan, dampaknya terhadap ketersediaan pangan masih relatif terbatas.
Pemerintah telah melakukan pendataan lahan terdampak puso, serta menyiapkan langkah perlindungan bagi petani.
Menyiapkan Asuransi Petani...
“Kami sudah identifikasi dampak bencana, dan menyiapkan asuransi untuk petani. Dampaknya terhadap stok pangan belum besar, karena hanya di beberapa lokasi,” ujar dia.
Sebagai informasi, produktivitas pangan Provinsi Jawa Tengah sepanjang 2025, telah memenuhi target dari pemerintah pusat. Hal itu sekaligus merupakan langkah awal, untuk meneguhkan provinsi ini sebagai penumpu pangan nasional.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, produktivitas padi hingga November 2025 mencapai 11.377.731 ton gabah kering panen (GKP), atau setara dengan 9.397.904 ton gabah kering giling (GKG).
Produktivitas itu berasal dari luas tanam padi di Jawa Tengah sekitar 2.025.782 hektare, dengan luas panen 1.673.012 hektare. Jumlah tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai tiga besar kontributor terbesar nasional.



