Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Meski demikian, di dalam museum yang berada di Jalan Dr Setiabudi, atau di kompleks pendapa Kabupaten Purworejo ini terdapat tiga pusaka yang dinaggap istimewa dan sebagai masterpiece. Yakni tiga buah senjata peninggalan pengawasal setia Pangeran Diponegoro, yakni Soepardjo Rustam.

Ia merupakan penggagas museum ini saat menjabat sebagai Mendagri di zaman Orde Baru. Museum ini diresmikan pada 13 April 1987.

”Di museum ini ada tiga bilah pusaka sebagai masterpiece. Pusaka itu sumbangan Pak Soepardjo Rustam,” kata Purwanto, Staf Bagian Konservasi Museum Tosan Aji.

Pusaka istimewa itu yakni keris Singo Barong, Pamor Beras Wutah, Tangguh Mataram dan pedang Suduk Pamor Buntel Mayit Tangguh Kartosuro. Ada juga tombak Biring Pamor Ron Geduru Tangguh Majapahit

Ia menyebut, jumlah pusaka di museum ini tercatat sebanyak  1.138 tosan aji berupa. Pusaka-pusaka itu berupa keris, tombak, pedang, kujang, granggang, cundrik, menur, sampai katana dari Jepang.

”Semuanya adalah sumbangan. Karena banyaknya koleksi, maka dalam perawatannya kami tidak mengenal bulan Suro. Bila mana ada panas sinar matahari dan angin akan kami bersihkan dan hasilnya akan maksimal," jelasnya.

Salah satu proses perawatan yang dilakukan yakni warangi atau mengawetkan bilag pusaka. Dalam proses ini  besi akan terlihat berwarna hitam, pamor (motif keris) akan bewarna putih.Dijelaskan, fungsi mewarangi ialah untuk mengawetkan tosan aji agar menampakkan pamor yang terbuat dari batu meteorid atau batu bintang. Sebab, tosan aji dibuat dengan teknik tempa oleh seorang empu dengan perpaduan besi baja dan batu meteorid atau dikenal pamor.Menurut Ipung, keberadaan Museum Tosan Aji bertujuan untuk untuk mengobservasi, menyimpan dan merawat pusaka-pusaka khas Indonesia yang ada di dalamnya. Apalagi, keris telah mendapatkan pengakuan dari organisasi UNESCO sebagai warisan budaya dunia non-bendawi."Di sini kami mengedepankan keris sebagai warisan budaya dunia yang diakui UNESCO. Bersanding dengan warisan adiluhuung Indonesia lainnya, yakni Candi Borobudur, Candi Prambanan dan batik. Karena, tidak segala benda kan masuk hak paten UNESCO," pungkasnya. Reporter: Ali MuntohaEditor: Ali Muntoha

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini

Terpopuler