Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Purworejo – Penyebaran Virus Covid-19 di Jawa tengah terus bermunculan. Setelah klaster ponpes di Purbalingga, klaster tarawih di Banyumas, hingga klaster masjid di karanganyar, kini giliran klaster ziarah muncul di Purworejo.

Dalam klaster ini, Satgas Covid-19 Purworejo bahkan mencatat ada 53 orang positif Covid-19. Bahkan satu orang di antaranya meninggal dunia.

Klaster tersebut muncul setelah rombongan warga Desa Tlogobulu, Kecamatan Kaligesing, melakukan ziarah ke Magelang pada Minggu (11/4/2021) lalu. Setelah pulang dari ziarah, salah satu warga merasa tidak enak badan dan memeriksakan diri ke Puskesmas.

"Tanggal 11 April ziarah ke Magelang. 25 jemaah musala dan 6 dari dzikrul khofilin yang tergabung dari beberapa desa di kecamatan. Setelah pulang ada yang mengeluh tidak enak badan. Kemudian periksa ke puskesmas sekaligus di-swab dan hasilnya positif Covid-19," kata Kades Tlogobulu, Faizal Hidayat seperti dikutip Solopos.com, Sabtu (1/5/2021).

Mengetahui salah satu warga yang ikut dalam rombongan ziarah dinyatakan terpapar virus Corona. Pihak desa langsung berkoordinasi dengan Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan terhadap seluruh peserta ziarah dan anggota keluarganya. Dari hasil pemeriksaan, 52 orang lainnya dinyatakan positif Covid-19.

"Jadi yang positif ada 53 orang, satu orang meninggal dunia dari klaster ziarah," imbuhnya.

Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dari klaster ziarag, 52 orang tersebut kemudian diisolasi mandiri di rumah masing-masing, Selama 14 hari terhitung sejak 26 April 2021. Akses keluar masuk desa pun dijaga oleh petugas agar lalu-lalang warga terkontrol dan terdata.

"Nggak lockdown. Diperintahkan lockdown tapi desa tidak bisa membiayai semua warganya. Jadi hanya pembatasan. Warga yang keluar masuk didata," jelasnya.
Sementara itu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi warga yang melaksanakan isolasi mandiri, pemdes menggunakan dana desa untuk membeli sembako dan keperluan lain. Faizal menuturkan, hingga saat ini belum ada bantuan apa pun dari pemerintah kabupaten."Isolasi mandiri yang terpapar dari klaster ziarah masih sampai tanggal 9 Mei nanti. Sampai sekarang belum ada bantuan dari pemerintah atau pun dinas terkait. Kami nggak mau minta-minta nanti dikira ngemis. Kalau harus bikin proposal malah tambah repot wong kami masih kena musibah. Sementara bantuan dari dana desa dan donatur buat beli sembako, vitamin dan keperluan lain," lanjutnya."Semoga warga yang terpapar segera sembuh dan bisa beraktivitas kembali sehingga roda perekonomian di desa pulih kembali. Karena saking banternya berita yang tidak benar itu (lockdown) warga Tlogobulu merasa terkucilkan. Dagangan nggak laku tidak diterima di desa sebelah," imbuhnya.Terpisah, Ketua Satgas Kecamatan sekaligus Camat Kaligesing, Hariyono, membenarkan bahwa telah muncul klaster ziarah di Desa Tlogobulu. Pihaknya bersama Forkopimcam rutin melakukan pengecekan terhadap perkembangan dan keadaan warga yang terpapar."Ya memang seperti itu, awalnya memang dari ziarah ya makanya bisa disebut sebagai klaster ziarah. Tadi malam bersama pak Kapolsek kami juga melakukan patroli dan warga merasa senang," kata Hariyono saat dihubungi. Penulis: SupriyadiEditor: SupriyadiSumber: Solopos.com

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini