MURIANEWS, Semarang – Nama bubur India memang tak jauh dari Masjid Pekojan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Pasalnya, setiap bulan Ramadan menu itu selalu ada dan menjadi ciri khas masjid tersebut.
Jika dilihat, sekilas tampilan bubur India ini tak jauh beda dengan bubur pada umumnya. Meski demikian, bubur India memiliki cita rasa yang gurih rempah dan kuah yang menggoyang lidah
Hal itu tak lepas dari bumbu-bumbu yang digunakan yang didominasi rempah-rempah. Resep bubur India ini juga diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Takmir Masjdi Jami Pekojan, Ahmad Ali mengatakan, rasa bubur ini masih sama dari generasi ke generasi. Selain diwariskan turun temurun, pemegang resep ini juga sudah diuji.
”Karena itu, bahan (bubur India) masih sama seperti dulu (warisan leluhur). Jadi secara turun temurun diajarkan ke penerusnya, di sini (Masjid Pekojan), saya generasi keempat,” katanya seperti dikutip
Solopos.com.
Ali mengatakan, rempah-rempah yang digunakan sebagai bahan pembuatan bubur India itu antara lain jahe, salam, daun, kayu manis, cengkeh, irisan bawang.
Selain itu, bumbunya juga dibuat dari perpaduan bumbu khas Timur Tengah yang diolah menjadi satu bersama beras dan air ke dalam sebuah tungku kayu yang berusia ratusan tahun.
Pembuatan bubur India tergolong lama. Untuk pembuatan bubur India setiap harinya, pengurus Masjid Pekojan pun harus menghabiskan waktu sekitar empat jam.“Yang penting masaknya harus ikhlas. Kalau enggak ikhlas, nanti ada saja kendalanya. Entah bubur tidak matang atau lainnya. Saya sendiri juga enggak tahu kenapa bisa begitu,” imbuhnya.Ali mengaku untuk menyiapkan bahan baku bubur India, dirinya tidak pernah merasaa kebingungan. Hal ini dikarenakan sehari sebelum puasa, biasanya ada yang mengirimkan bahan-bahan untuk membuat bubur India. Ali mengaku tidak tahu siapa yang mengirimkan atau menyumbangkan bahan-bahan itu.Meski demikian, yang pasti bubur India itu selalu dibagikan kepada warga untuk buka puasa atau takjil saat bulan Ramadan di Masjid Pekojan, Kota Semarang. Kegiatan ini sudah ada sejak ratusan tahun hingga menjadi tradisi.“Setiap hari selama puasa kami memasak untuk masyarakat, setidaknya 20 kg beras kami olah menjadi bubur,” jelas Ali. Penulis: SupriyadiEditor: SupriyadiSumber:
Solopos.com
[caption id="attachment_282946" align="alignleft" width="880"]

Warga menanti beduk azan maghrib untuk berbuka puasa dengan menikmati bubur India di Masjid Pekojan, Kota Semarang, Selasa (5/4/2022). (Solopos.com-Adhik Kurniawan)[/caption]
MURIANEWS, Semarang – Nama bubur India memang tak jauh dari Masjid Pekojan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Pasalnya, setiap bulan Ramadan menu itu selalu ada dan menjadi ciri khas masjid tersebut.
Jika dilihat, sekilas tampilan bubur India ini tak jauh beda dengan bubur pada umumnya. Meski demikian, bubur India memiliki cita rasa yang gurih rempah dan kuah yang menggoyang lidah
Hal itu tak lepas dari bumbu-bumbu yang digunakan yang didominasi rempah-rempah. Resep bubur India ini juga diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.
Takmir Masjdi Jami Pekojan, Ahmad Ali mengatakan, rasa bubur ini masih sama dari generasi ke generasi. Selain diwariskan turun temurun, pemegang resep ini juga sudah diuji.
”Karena itu, bahan (bubur India) masih sama seperti dulu (warisan leluhur). Jadi secara turun temurun diajarkan ke penerusnya, di sini (Masjid Pekojan), saya generasi keempat,” katanya seperti dikutip
Solopos.com.
Ali mengatakan, rempah-rempah yang digunakan sebagai bahan pembuatan bubur India itu antara lain jahe, salam, daun, kayu manis, cengkeh, irisan bawang.
Selain itu, bumbunya juga dibuat dari perpaduan bumbu khas Timur Tengah yang diolah menjadi satu bersama beras dan air ke dalam sebuah tungku kayu yang berusia ratusan tahun.
Pembuatan bubur India tergolong lama. Untuk pembuatan bubur India setiap harinya, pengurus Masjid Pekojan pun harus menghabiskan waktu sekitar empat jam.
“Yang penting masaknya harus ikhlas. Kalau enggak ikhlas, nanti ada saja kendalanya. Entah bubur tidak matang atau lainnya. Saya sendiri juga enggak tahu kenapa bisa begitu,” imbuhnya.
Ali mengaku untuk menyiapkan bahan baku bubur India, dirinya tidak pernah merasaa kebingungan. Hal ini dikarenakan sehari sebelum puasa, biasanya ada yang mengirimkan bahan-bahan untuk membuat bubur India. Ali mengaku tidak tahu siapa yang mengirimkan atau menyumbangkan bahan-bahan itu.
Meski demikian, yang pasti bubur India itu selalu dibagikan kepada warga untuk buka puasa atau takjil saat bulan Ramadan di Masjid Pekojan, Kota Semarang. Kegiatan ini sudah ada sejak ratusan tahun hingga menjadi tradisi.
“Setiap hari selama puasa kami memasak untuk masyarakat, setidaknya 20 kg beras kami olah menjadi bubur,” jelas Ali.
Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber:
Solopos.com