Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Semarang – Banyaknya hoaks atau informasi palsu yang tersebar secara terbuka di berbagai platform digital dan media sosial dinilai sebagai biang terjadinya konflik di masyarakat.

Karena itu, ia mengajak semua orang untuk ikut memerangi hoaks dengan memberikan literasi untuk menyaring informasi ini.

Hal itu diungkapkan Wakil Komisi D DPRD Kota Semarang Rahmulyo Adiwibowo dalam sambutannya saat membuka Diskusi Terfokus (FGD) Kurikulum Cek Fakta & Literasi Berita di Sekolah yang digelar Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) pada Kamis (2/6/2022) pagi.

”Kebebasan informasi sudah dilindungi UU nomor 14 tahun 2008. Tugas kita adalah menjaga kebebasan itu, karena informasi ngawur yang bebas tersebar akan memicu terjadinya konflik,” ungkap mantan Ketua KIP Jateng itu.

Rahmulyo menyebutkan, ada orang-orang sengaja menyebar berita bohong di media sosial atau grup percakapan digital. Sementara, banyak orang yang malas membaca keseluruhan berita dan hanya membaca judulnya saja.

”Melihat kenyataan ini, kita semua mempunyai tanggung jawab moral untuk memperbaiki (situasi) ini dan mendidik anak-anak kita agar tidak terbiasa dengan kondisi itu,” tegas politikus PDI Perjuangan itu.

Hal tersebut juga diamini Wakil Ketua AMSI Pusat Irfan Djunaedi. Dalam sambutannya, Irfan mengatakan, FGD yang digelar di Patra Convention Hotel Semarang itu merupakan ikhtiar AMSI untuk memerangi tersebarnya berita bohong yang menyesatkan dan membawa korban.”Ini bukan sekadar tanggung jawab media, tapi juga semua stake holder literasi seperti sivitas akademika kampus, pendidik di sekolah, NGO, dan lain-lain,” terangnya.Pemimpin Redaksi Republika itu menegaskan, FGD ini penting karena Indonesia sedang mengalami kekeruhan informasi. Berita yang benar bercampur dengan yang keliru. Jika tidak mempunyai kemampuan untuk menyaringnya, akan muncul dampak negatif yang membahayakan.“Tidak sedikit peristiwa atau konflik yang dipicu oleh informasi yang keliru. Saya berharap ini jadi instrumen penting serta bekal yang berguna untuk menjadi filter saat kita disuguhi berbagai bentuk berita,” ujar koordinator kegiatan News Literacy Google di AMSI tersebut. Penulis: SupriyadiEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini

Terpopuler