Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Guru Kelas V MI Muhammadiyah Gemantar, Nadia Devisa mengatakan, peristiwa itu terjadi saat kegiatan belajar mengajar (KBM) masih berlangsung, tepatnya sekitar pukul 08.15 WIB.

Saat kejadian, ia juga tengah mengajar di sebelah ruang yang ambruk itu mengaku mendengar suara gmuruh yang disusul jeritan anak-anak.

Baca: Kena Terjangan Angin Kencang, Gedung SD di Grobogan Ini Tiba-Tiba Roboh

”Saya dan Bu Ning (Tri Lestariningsih, guru lain) langsung lari keluar. Saya kira ada siswa yang jatuh, ternyata yang jatuh atapnya dan menimpa anak-anak. Anak-anak dievakuasi keluar. Ada dua anak yang luka. Ibu kepala sekolah juga luka-luka,” ujarnya seperti dikutip Solopos.com, Senin siang.

Ia menyebutkan, terdapat delapan siswa dan tiga guru di ruangan yang atapnya ambruk tersebut. Tiga guru itu terdiri atas Dwi Hastuti yang menjabat kepala sekolah sekaligus wali Kelas II, guru Kelas IV Reni Anggarwati, dan guru Kelas VI Rita Pustikawati.

”Dua siswa yang luka yakni Riko, siswa Kelas VI yang jarinya sobek 2 cm dan Fiko, siswa Kelas VI yang mengalami lecet pada kepala. Keduanya dibawa ke puskesmas,” katanya.

Baca: Atap Tribun Utara Stadion Wergu Kudus Roboh Diterjang AnginSementara, sang kepala sekolah Dwi Hastuti harus dilarikan ke rumah sakit lantaran mengalami nyeri pada punggung dan perut. Ia diketahui tertimpa kayu saat hendak menyelamatkan diri.”Bu Kepala dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Masaran setelah tertmpa kayu,” jelasnya.Nadia memaparkan sudah empat bulan terakhir para siswa dari tiga kelas dijadikan satu ruangan. ”Di MI ini ada empat lokal, dua lokal sudah dibangun, yang satu ruang  belum dibangun, malah ambruk atapnya,” ujarnya. Penulis: SupriyadiEditor: SupriyadiSumber: Solopos.com

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini

Terpopuler