Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dengan besaran tersebut, karyawan pabrik, dan karyawan swasta dengan gaji Upah Minimum Kabupaten (UMK) bisa memiliki rumah huni dengan plafon harga rumah Rp 150 juta per unit.

Pengembang perumahan di Sragen Giana Saputra mengatakan, animo masyarakat cukup tinggi terhadap perumahan bersubsidi. Itu membuktikan bila perumahan bersubsidi menjadi primadona.

Dia menerangkan pembeli perumahan bersubsidi itu kebanyakan karyawan pabrik dan MBR lantaran angsurannya terjangkau, yakni cukup Rp 900 ribu per bulan.

”Alhamdulillah tempat saya 50 unit habis di 2022 lalu. Kalau se-Sragen itu, total perumahan yang terjual lebih dari 400 unit dari tujuh pengembangan,” ujar Giana yang juga Sekretaris Asosiasi Pengusaha Properti Sragen (APPS) seperti dikutip Solopos.com.

Kabid Perumahan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, Pertanahan, dan Tata Ruang (Disperkimtaru) Sragen, Puji Lestari, menyajikan data jumlah perumahan bersubsidi yang direncanakan pada 2022 itu sebanyak 597 unit dari 14 pengembang perumahan di Sragen. Namun, yang sudah dibangun baru sebanyak 175 unit.

Kalau dibandingkan di 2021, Puji menerangkan, jumlah rumah yang direncanakan sebanyak 729 unit dan yang terbangun sebanyak 459 unit. Puji mengakui animo masyarakat untuk beli rumah bersubsidi itu ternyata dipengaruhi dua hal. Selain angsuran yang murah, mereka juga mempertimbangkan lokasi perumahannya.

Dia menyebut lokasi seperti Puro, Kroyo, Plumbungan, Guworejo, itu lebih banyak dicari orang karena lokasinya dekat dengan kota. Dia menyebut dengan uang muka Rp 8 juta sudah bisa membeli rumah tipe 36/60 seharga Rp 150 juta.

”Pengajuan site plan untuk perumahan itu ada 20-25 site plan per tahun dengan luasan rata-rata 3.000 meter persegi per site plan. Setelah dikurangi jalan, fasilitas umum, dan fasilitas sosial 30% maka setiap site plan itu bisa dibangun 30-35 unit rumah,” jelasnya.
Puji menerangkan tantangan bagi pengembang itu harus mencari tanah yang murah tetapi di lokasi yang strategis, seperti di pinggiran kota atau dekat dengan lokasi kerja segmen yang dibidik.Pra pengembang yang bermain dengan perumahan bersubsidi itu dapat untung sedikit tetapi perputaran uangnya cepat dan segmennya memang mereka yang gajinya UMK.”Perumahan di Sambiduwur, Gemolong, misalnya tidak laku cepat karena lokasinya jauh dari perkotaan. Kalau perumahan di seputaran Purwosuman itu lebih cepat laku karena dekat dengan pabrik,” ujarnya.Seorang pengembang perumahan di Sragen, Syaifuddin, mengakui bila perumahan bersubsidi masih menjadi idola karena membantu pekerja dengan tempo waktu angsuran yang cukup lama sampai 20 tahun dan setoran ringan. Dia menerangkan setoran per bulannya di angka Rp 900 ribu per bulan.”Perumahan saya di Guworejo itu 30 unit habis terjual. Sekarang pengembangan di sekitar Dayu, Jurangjero, masih dalam proses pembuatan tetapi hanya 10 unit sebagai daya tarik bagi perumahan komersial,” jelasnya. Penulis: SupriyadiEditor: SupriyadiSumber: Solopos.com

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini

Terpopuler