Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Cilacap – Guna mewujudkan rasa syukur atas jalan beton yang dibiayai Pemprov Jateng, masyarakat di Desa Pesanggrahan dan tiga desa di Kecamatan Kesugihan, Cilacap, menggelar tumpengan raksasa, Jumat (2/9/2022).

Tumpengan tersebut bahkan dihadiri langsung Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Orang nomor satu di Jateng itu membaur bersama ratusan warga yang sudah berkumpul di ruas jalan sejak pukul 13.00 WIB.

Ganjar yang tiba di lokasi langsung disambut dengan tarian diiringi alunan gamelan dari pengrawit. seketika itu Ganjar langsung larut di tengah masyarakat yang sudah menunggu.

”Terima kasih Pak Ganjar sudah berkenan hadir siang ini di tengah-tengah masyarakat. Kehadiran bapak sudah kami tunggu-tunggu sejak lama untuk bisa syukuran bareng bersama warga. Kami terima kasih atas dibangunnya jalan ini yang dulu rusak parah,” ujar Tugiyo, tokoh masyarakat dalam sambutannya bersama Kepala Desa Pesanggrahan Tugiman.

Setelah beberapa sambutan termasuk dari Ganjar Pranowo, acara kemudian dilanjutkan dengan doa bersama. Usai doa bersama Ganjar secara simbolis memotong tumpeng dan menyantap hidangan khas desa bersama masyarakat.

Ia duduk lesehan di tengah kerumunan warga yang ikut mengambil makanan dari tumpeng raksasa yang ada di belakang Ganjar.

”Saya dulu pernah ke sini, di ruas jalan bagian Utara. Di sana juga dibangun terus membuat tumpeng panjang sekali. Sekarang di sini (ruas jalan di Desa Pesanggrahan),” katanya.

”Ini semua karena memang masyarakat ingin menyampaikan terima kasih saja. Itulah gaya rakyat yang menurut saya dengan originalitasnya punya gawe yang merasa dimiliki bersama. Ini saya titip, guyub rukunnya untuk dijaga. Mudah-mudahan nanti dibereskan sampai ujungnya,” tambahnya seusai acara.

Jalan beton sepanjang delapan kilometer itu diresmikan oleh Ganjar pada tahun 2019 lalu. Jalan itu melintasi empat desa yaitu Desa Pesanggrahan, Karang Jengkol, Keleng, dan Ciwuni.

Jalan tersebut dibangun dari dana gotong royong yang berasal dari Bantuan Gubernur senilai Rp 7 miliar, anggaran pemerintah pusat Rp 5 miliar, dan pemerintah kabupaten Rp 4 miliar.Sejak diresmikan, jalan itu memberikan kemudahan akses transportasi dan mendongkrak perekonomian warga sekitar.”Ini hasil perjuangan yang sangat panjang dari empat Kades. Tokohnya ini, dan ada Pak Tugiman juga. Perjuangan panjang itu hari ini menghasilkan sesuatu yang mulai bisa dilihat. Pertaniannya jalan, ekonomi berkembang, dan dulu waktu saya jalan ke sini jalannya lumayan hancur dan bantuan keuangan dari provinsi alhamdulillah bisa dimanfaatkan dengan baik,” ungkapnya.Ganjar menyampaikan, seluruh bantuan keuangan yang diberikan untuk membangun  harap diawasi dengan baik sehingga kualitas bagus atau minimal sesuai spek dan jangan sampai dikorupsi.Kalau itu bisa dilaksanakan pasti masyarakat akan mendapatkan manfaat yang lebih baik, mereka senang karena mendapatkan kualitas yang oke. Dulu kan banyak truk-truk dengan kapasitas besar lewat sini, itu kalau jalannya nggak kuat nggak bisa,” terangnya.Ganjar sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan truk kapasitas besar lewat di jalan itu asalkan mengikuti aturan mengenai over load over dimensi. Dengan mengikuti aturan maka jalan yang dibangun dari dana gotong royong itu bisa awet dan manfaatnya bisa lebih panjang.”Kalau mereka mengikuti aturan dan tidak over load over dimensi sehingga jalan pasti awet. Nggak apa-apa dilewati, kalau sudah over load juga nggak bisa. Ini sejarah yang cukup panjang waktu itu dan waktu saya lewat dalam kondisi yang cukup rusak. Suara dari kiri-kanan itu membuat hati kita sedih. Suaranya itu sudah bukan suara memohon tapi marah, sudah ngamuk. Yang hebat bukan saya tapi para kades-kades inilah berserta masyarakat,” imbuhnya. Reporter: SupriyadiEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini

Terpopuler