Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Usulan HPP itu, didasarkan pada pertimbangan berkurangnya subsidi pupuk, naiknya harga bahan bakar minyak (BBM)  serta naiknya harga pestisida sehingga berdampak pada biaya produksi petani yang naik pula.

Permintaan itu disampaikan melalui surat yang disampaikan ke Jokowi saat meresmikan Sentra Penggilingan Padi atau Modern Rice Miling Plant (MRMP) di Karangmalang, Sragen, Sabtu (11/3/2023).

Baca: Ketemu Jokowi, Bupati Blora Minta Dukungan Pembangunan Jalan

”Ya, tadi suratnya disampaikan kepada Sekretariat Presiden dan surat sudah sampai ke Presiden langsung,” kata Ketua KTNA Sragen, Suratno seperti dikutip Solopos.com.

Suratno menjelaskan, KTNA Sragen mengusulkan agar HPP GKP dinaikan menjadi Rp 5.400 per kg tanpa ada aturan batas atas. Dengan begitu, petani masih bisa merasakan keuntungan di tengah naiknya biaya tanam.

”Biaya tanam petani per hektarenya mencapai Rp 28,6 juta dengan produksi 6 ton per hektare. Bila harga GKP senilai Rp 4.730 per kg maka petani baru bisa impas antara biaya produksi dan hasil panen, tanpa untung. Agar petani untung, kami meminta HPP dinaikan menjadi Rp 5.400 per kg,” jelasnya.Dia mengatakan dengan HPP Rp 5.400 per kg petani bisa mendapat keuntungan Rp 4 juta per hektare, itu pun harus menunggu selama empat bulan.Baca: Sentra Penggilingan Padi di Sragen Diresmikan Jokowi, Bulog Diminta Lakukan IniApabila luas lahan petani itu hanya 1/3 hektare atau satu patok, sebut dia, maka keuntungan petani selama empat bulan itu hanya Rp 1,35 juta per musim.”Selain kenaikan HPP kami juga meminta subsidi pupuk. Ini karena susidi pupuk selalu berkurang setiap tahunnya. Padahal pupuk nonsubsidi harganya mahal. Kurangnya pemupukan menjadi salah satu penyebab produksi padi di Sragen turun sampai 18 persen,” imbuhnya.Di sisi lain, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, segera menetapkan HPP GKP. Arief sudah mendapatkan masukan atau usulan HPP dari petani, termasuk dari KTNA Sragen. Dia menyebut usulan HPP petani antara Rp 4.800 per kg sampai Rp 5.700 per kg.

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini

Terpopuler