Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Dugaan keracunan tersebut berawal dari banyaknya warga yang mengeluh diare dan memeriksakan diri ke rumah bidan Desa Jambeyan, Jumat (28/4/2023) malam mulai pukul 21.30 WIB.

Seterlah melihat gejala, dan makanan terakhir yang disantap, diduga kuat ratusan warga tersebut keracunan makanan punjungan warga. Untuk menghindri kemungkinan, tiga ambulans disiagakan untuk mengantar para warga berobat ke puskesmas.

Sugiyono, warga Jambeyan mengatakan awalnya ia mengantar salah satu warga ke rumah bidan desa untuk meminta obat karena mengeluh diare. Dia menyebut hingga pukul 21.52 WIB sudah ada 50-an, orang yang datang ke rumah bidan desa tersebut.

Baca: Soal Keracunan Massal di Boyolali, Dinkes Ambil Sampel Makanan dari Lokasi Hajatan

”Dugaannya dari daging sapi punjungan. Keluhannya diare dan mual-mual. Infonya ada dua orang yang dibawa ke Puskesmas Sambirejo. Hari ini, tiga ambulans tersebut masih stand by, termasuk ambulans tempatku (Jambeyan),” ujar Sugiyono yang juga sopir ambulans Desa Jambeyan.

Seorang warga Jambeyan, Sumadi, menjadi korban keracunan massal itu. Sumadi ikut antre berobat di rumah bidan desa setempat. Ia duduk sembari memegangi perutnya yang tidak enak.”Awalnya Jumat pagi dapat punjungan nasi dari warga yang hajatan. Lauknya daging sapi dalam kemasan plastik mika. Sebelum Jumatan, nasi dan lauk itu saya makan. Semula tidak apa-apa. Lama-lama merasa perutku mual-mual. Merokok juga enggak enak,” katanya kepada Solopos.com.Sumadi hanya cuek dikira hanya diare biasa. Pada Jumat malam, Sumadi melihat banyak orang yang mengeluhkan hal yang sama dan sama-sama habis makan nasi punjungan itu.”Berarti sama dengan makanan yang saya makan tadi siang. Terus saya datang ke pos kesehatan. Saat itu saya diare lagi. Sekarang sudah dikasih obat, perutnya sudah lumayan,” kisah Sumadi.Sumadi mengatakan banyak warga yang berdatangan ke pos kesehatan di rumah bidan desa. Dia menyampaikan mereka ada yang dari Jambeyan dan Sukorejo. Dia menyebut dari wilayah Sukorejo itu ada yang dari Cengklik, Jetis, Sawur, dan Karangjati.”Kalau yang dari Jambeyan ada yang dari Sunggingan, Galeh, Ngablak, Polorjo, Josari, Gembol 2 RT, Jambeyan Lor, Jambeyan Kidul, Kebonloji, dan Gamping. Banyak seperti pasar, Mas,” katanya.

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini

Terpopuler