Sektor investasi juga mencatatkan rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir dengan realisasi mencapai Rp 88,50 triliun pada tahun 2025.
Investasi ini terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 37,64 triliun. Hasilnya, investasi jateng ini berhasil menyerap lebih dari 418 ribu tenaga kerja melalui 105.078 proyek yang terealisasi.
Pertumbuhan angka makro ini berdampak langsung pada penurunan angka kemiskinan di wilayah setempat. Dari data Maret hingga September 2025, angka kemiskinan berhasil ditekan dari 9,48 persen menjadi 9,39 persen.
Keberhasilan ini juga diperkuat dengan meningkatnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita masyarakat Jateng yang kini mencapai Rp 50,82 juta, atau naik 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menekankan bahwa momentum positif ini harus dijaga dengan program yang menyentuh masyarakat bawah, termasuk akses pendidikan bagi kelompok disabilitas.
Sementara itu, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa deretan penghargaan yang diraih selama setahun terakhir hanyalah pengingat untuk terus "ngopeni" atau merawat Jawa Tengah dengan integritas dan semangat pelayanan tanpa henti.
”Kita gandeng beberapa kampus dan seluruh potensi masyarakat. Collaborative government ini cara bersama-sama untuk membangun Jawa Tengah," ucap Luthfi beberapa waktu lalu.
Murianews, Semarang – Pasangan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin tepat satu tahun memimpin Jawa Tengah sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur pada 20 Februari kemarin.
Dalam kurun waktu setahun, kepemimpinan duet ini diwarnai dengan dinamika penanganan bencana alam yang responsif serta torehan prestasi makro ekonomi yang melampaui capaian nasional.
Tahun pertama masa jabatan mereka diuji dengan berbagai bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir bandang di Demak, longsor di lereng Gunung Slamet, hingga fenomena tanah gerak di Kabupaten Tegal.
Namun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) dinilai sigap melakukan langkah komprehensif, mengintegrasikan penanganan darurat dengan pemulihan pascabencana secara simultan sehingga aktivitas masyarakat tidak lumpuh total.
Di tengah tantangan alam tersebut, Ahmad Luthfi membawa terobosan melalui konsep Collaborative Government atau pemerintahan kolaboratif.
Prinsip ini mengedepankan gotong royong dengan menggandeng berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, hingga sektor swasta. Menurut Luthfi, membangun Jawa Tengah tidak bisa dilakukan secara sektoral, melainkan butuh sinergi aktif dari semua elemen masyarakat.
Hasil dari kolaborasi tersebut tercermin nyata dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan IV tahun 2025 tercatat mencapai 5,37 persen, posisi yang berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,11 persen.
Angka ini menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Jawa.
Rekor Tertinggi...
Sektor investasi juga mencatatkan rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir dengan realisasi mencapai Rp 88,50 triliun pada tahun 2025.
Investasi ini terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 37,64 triliun. Hasilnya, investasi jateng ini berhasil menyerap lebih dari 418 ribu tenaga kerja melalui 105.078 proyek yang terealisasi.
Pertumbuhan angka makro ini berdampak langsung pada penurunan angka kemiskinan di wilayah setempat. Dari data Maret hingga September 2025, angka kemiskinan berhasil ditekan dari 9,48 persen menjadi 9,39 persen.
Keberhasilan ini juga diperkuat dengan meningkatnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita masyarakat Jateng yang kini mencapai Rp 50,82 juta, atau naik 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menekankan bahwa momentum positif ini harus dijaga dengan program yang menyentuh masyarakat bawah, termasuk akses pendidikan bagi kelompok disabilitas.
Sementara itu, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa deretan penghargaan yang diraih selama setahun terakhir hanyalah pengingat untuk terus "ngopeni" atau merawat Jawa Tengah dengan integritas dan semangat pelayanan tanpa henti.
”Kita gandeng beberapa kampus dan seluruh potensi masyarakat. Collaborative government ini cara bersama-sama untuk membangun Jawa Tengah," ucap Luthfi beberapa waktu lalu.