Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Didik Madiyono, Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tidak memungkiri adanya serangan siber. Hal itu disampaikannya di acara diskusi digitalisasi perbankan yang digelar oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Jawa Tengah dengan kegiatan Jateng Digital Conference pada Rabu (1/3/2023).

Baca: Kejahatan Cyber Jadi Ancaman Serius Digitalisiasi Keuangan, Ini Bentuknya

”Badan Siber dan Sandi Negara atau BSSN menyampaikan beragam serangan hacker masih terjadi. Mulai dari serangan Malware, kebocoran data, dan Trojan," katanya, Rabu (1/3/2023).

Lebih lanjut, Didik menyampaikan industri keuangan global lebih sering mengalami serangan siber dibandingkan industri lainnya. Oleh sebab itu pihaknya meminta agar masyarakat tetap berhati-hati.

Dia menjelaskan, ada beberapa tahapan yang kerap dilakukan oleh pelaku kejahatan siber untuk meyakinkan targetnya. Salah satunya dengan berpura-pura menjadi pegawai bank.

”Biasanya pelaku kejahatan siber meyakinkan targetnya dengan meminta password OTP, user name, dan sandi milik nasabah. Kemudian menguasai akun milik targetnya,” sambungannya.

Tidak berhenti di situ, menurutnya pelaku kejahatan siber juga meyakinkan target korban menggunakan embel-embel hadiah dan undian yang palsu. Selain itu, serangan siber juga terkadang menggunakan modus lainnya.
Tidak berhenti di situ, menurutnya pelaku kejahatan siber juga meyakinkan target korban menggunakan embel-embel hadiah dan undian yang palsu. Selain itu, serangan siber juga terkadang menggunakan modus lainnya.Baca: Era Digitalisasi, Tren Perkembangan Bank Digital Terus Melesat”Ada serangan siber dengan cara mengirimkan file yang disisipi malware. Bentuknya file APK. Ketika dibuka, pelaku kemudian mengambil akses milik nasabah,” terangnya.Dia menambahkan, modus kejahatan lain juga ada. Seperti mengalihkan nasabah dari situs asli ke situs palsu. Tidak berhenti di situ, ada juga yang menyalin melalui metode skimming.”Modus skimming ini sebenarnya sudah lama. Modusnya menyalin strip magnetik dari kartu debit maupun kartu kredit,” imbuhnya. Reporter: Vega Ma'arijil UlaEditor: Supriyadi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini

Terpopuler