Namun bagi Dewi, seorang pekerja lama, momen itu jauh lebih personal. Ia masih mengingat hari ketika gerbang pabrik ditutup tanpa pemberitahuan pada 29 Februari 2024.
”Kami dikumpulkan dan diarahkan oleh HRD. Setelah itu, kami hanya bisa menunggu,” katanya.
Hampir 18 bulan Dewi bertahan dengan pekerjaan serabutan. Ketika pabrik kembali beroperasi, ia merasa seperti mendapatkan kesempatan kedua.
”Sekarang senang bisa bekerja lagi. Harapannya pabrik ini bisa terus berjalan agar kami punya kepastian penghasilan,” ujarnya.
Cerita serupa dialami Nurul, pekerja lain yang menjadi tulang punggung keluarganya. Selama pabrik tutup, ia mengerjakan apa saja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
”Sekarang bisa menerima gaji lagi, rasanya lega,” katanya.
Murianews, Pemalang – Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menegaskan komitmennya dalam menciptakan iklim usaha yang aman dan kondisi. Salah satunya yakni dengan menjamin kepastian hukum serta kemudahan perizinan melalui satu pintu.
Selain itu, Pemprov Jateng juga melakukan langkah-langkah strategi penguatan sektor padat karya yang didukung sekolah vokasi serta balai latihan kerja.
Dengan kebijakan itu, realisasi investasi di Jateng tercatat mencapai 66,13 triliun atau 84,42 persen dari target tahunan, hingga triwulan III 2025 ini.
Jumlah penyerapan tenaga kerja di Jateng juga mencapai lebih dari 326 ribu orang. Angka itu bahkan disebut menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa saat ini.
”Serapan tenaga kerja Jawa Tengah saat ini tertinggi di Pulau Jawa,” ujarnya, saat peresmian ulang pabrik garmen PT Wong Hang Bersaudara dan PT Akarsa Garment, Jumat (19/12/2025).
Diketahui, pabrik di kawasan industri, Jalan Lingkar Luar Pemalang itu sebelumnya berhenti beroperasi hampir satu setengah tahun lamanya.
Dengan pembukaan kembali pabrik garmen tersebut, sebanyak 1.500 tenaga kerja kembali bekerja. Sebagian di antaranya merupakan pekerja lama yang sempat kehilangan mata pencaharian.
Dalam peresmian itu, hadir juga Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Wakapolri), Komisaris Jenderal Polisi Dedi Prasetyo. Hadir juga Direktur PT Akarsa Garment, Alfindra Almandra.
Sempat Alami Kepailitan...
Afindra menjelaskan, pabriknya sempat mengalami kepailitan pada 2024 lalu. Proses revitalisasi pun dilakukan hingga pabrik kembali beroperasi dengan dukungan sekitar 900 unit mesin produksi.
”Saat ini jumlah pekerja mencapai 1.500 orang. Kami memproduksi penutup kepala atau balaklava,” ujarnya.
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi saat menghadiri peresmian kembali pabrik garmen PT Wong Hang Bersaudara dan PT Akarsa Garment di Pemalang, Jateng, Jumat (19/12/2025). (Murianews/Pemprov Jateng)
Sementara, perwakilan manajemen, Steven Wongso menambahkan, komposisi tenaga kerja terdiri atas pekerja lama dan baru. Ia memastikan hak-hak normatif pekerja telah dipenuhi, termasuk jaminan sosial ketenagakerjaan.
”BPJS dan kewajiban lainnya sudah kami laksanakan,” katanya.
Dalam sambutannya, Wakapolri Dedi Prasetyo menegaskan, pekerja merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Ia menyatakan komitmen Polri dalam mendukung iklim ketenagakerjaan yang sehat dan produktif.
“Keselamatan kerja dan hubungan industrial yang harmonis harus dijaga agar produksi berkelanjutan,” ujarnya.
Beroperasinya kembali pabrik itu menjadi penanda bangkitnya sektor industri padat karya sekaligus pemulihan ekonomi masyarakat sekitar.
Cerita Pekerja...
Namun bagi Dewi, seorang pekerja lama, momen itu jauh lebih personal. Ia masih mengingat hari ketika gerbang pabrik ditutup tanpa pemberitahuan pada 29 Februari 2024.
”Kami dikumpulkan dan diarahkan oleh HRD. Setelah itu, kami hanya bisa menunggu,” katanya.
Hampir 18 bulan Dewi bertahan dengan pekerjaan serabutan. Ketika pabrik kembali beroperasi, ia merasa seperti mendapatkan kesempatan kedua.
”Sekarang senang bisa bekerja lagi. Harapannya pabrik ini bisa terus berjalan agar kami punya kepastian penghasilan,” ujarnya.
Para pekerja pabrik garmen PT Wong Hang Bersaudara dan PT Akarsa Garment di Pemalang, Jateng, Jumat (19/12/2025). (Murianews/Pemprov Jateng)
Cerita serupa dialami Nurul, pekerja lain yang menjadi tulang punggung keluarganya. Selama pabrik tutup, ia mengerjakan apa saja demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
”Sekarang bisa menerima gaji lagi, rasanya lega,” katanya.
Editor: Zulkifli Fahmi