Rasa syukur berulang kali ia ucapkan saat mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (29/12/2025). Ia turun dari pesawat Hercules bersama 17 warga Jateng lainnya.
Saat ditemui, ia mengaku sempat terjebak selama 15 hari di tengah hutan pinus, daerah Linge, Kabupaten Aceh Tengah bersama enam temannya. Saat bencana terjadi, mereka sedang bekerja sebagai penderes getah pohon pinus di hutan.
”Kami terjebak di hutan, tidak bisa keluar, makan pun sulit,” kata Sarto, ditemui di Halim Perdanakusuma.
Selama 15 hari itu, mereka bertahan dengan kondisi dan logistik seadanya. Sebab, seluruh tempat tinggal serta akses telah hancur diterjang banjir dan longsor.
”Tempat tinggal juga sudah hancur di sana, untung ada makanan sedikit untuk kita coba bertahan di sana,” katanya.
Dengan persediaan seadanya, mereka akhirnya mencoba keluar dari hutan dengan berjalan kaki. Perjalanan hingga puluhan kilometer pun harus mereka lakoni.
Jalanan terjal dan curam serta penuh dengan material longsor harus dihadapi. Setelah melalui perjalanan sulit itu, mereka akhirnya sampai ke pengungsian.
”Kami jalan kaki, jalannya naik-turun, melewati longsoran, Sulit untuk jalan. Selama delapan tahun kerja di sana, baru kali ini ada kejadian seperti itu,” tutur Sarto.
Murianews, Semarang – Sarto menjadi salah satu warga Jawa Tengah yang berhasil dipulangkan ke kampung halaman, Majenang, Cilacap. Ia berhasil selamat dari dahsyatnya bencana Aceh.
Rasa syukur berulang kali ia ucapkan saat mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (29/12/2025). Ia turun dari pesawat Hercules bersama 17 warga Jateng lainnya.
Saat ditemui, ia mengaku sempat terjebak selama 15 hari di tengah hutan pinus, daerah Linge, Kabupaten Aceh Tengah bersama enam temannya. Saat bencana terjadi, mereka sedang bekerja sebagai penderes getah pohon pinus di hutan.
”Kami terjebak di hutan, tidak bisa keluar, makan pun sulit,” kata Sarto, ditemui di Halim Perdanakusuma.
Selama 15 hari itu, mereka bertahan dengan kondisi dan logistik seadanya. Sebab, seluruh tempat tinggal serta akses telah hancur diterjang banjir dan longsor.
”Tempat tinggal juga sudah hancur di sana, untung ada makanan sedikit untuk kita coba bertahan di sana,” katanya.
Dengan persediaan seadanya, mereka akhirnya mencoba keluar dari hutan dengan berjalan kaki. Perjalanan hingga puluhan kilometer pun harus mereka lakoni.
Jalanan terjal dan curam serta penuh dengan material longsor harus dihadapi. Setelah melalui perjalanan sulit itu, mereka akhirnya sampai ke pengungsian.
”Kami jalan kaki, jalannya naik-turun, melewati longsoran, Sulit untuk jalan. Selama delapan tahun kerja di sana, baru kali ini ada kejadian seperti itu,” tutur Sarto.
Bersyukur Bisa Kembali
Sesampainya di pengungsian, mereka pun masih mengalami kesulitan. Sebab, pasokan logistic masih sering terhambat karena akses yang tertutup material longsor dan banjir.
Kini, ia pun bersyukur bisa dipulangkan ke tanah kelahirannya di Jawa Tengah. Rasa haru pun tak bisa lagi ia ungkapkan.
”Alhamdulillah sekarang sudah sampai di Jakarta, nanti lanjut ke kampung di Majenang, Cilacap,” ucapnya.
Sarto menyampaikan terima kasih kepada Pemprov Jateng, yang telah memfasilitasi pulang ke kampung halaman. Dia juga mengatakan, ke depan akan bertahan dulu di kampung, karena kondisi di tempat kerjanya dulu belum pulih.
”Mungkin bertahan dulu di kampung karena di sana juga belum pulih, mungkin mau coba usaha dulu di kampung,” imbuhnya.
Penderes lainnya, Sarna Parjono, mengaku baru tujuh bulan bekerja sebagai penderes pinus di Aceh. Dia bersyukur dapat selamat dari bencana tersebut, meskipun kecemasan masih dirasakan.
”Alhamdulillah sekali bisa pulang. Apalagi pas kejadian saat itu lagi di tempat kerja sama teman-teman,” katanya.
Sarto menjadi salah satu warga Jawa Tengah yang berhasil dipulangkan ke kampung halaman, Majenang, Cilacap. Ia berhasil selamat dari dahsyatnya bencana Aceh.
Terdampak Bencana...
Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah, Sarido, mengatakan, ada 18 warga asal Jawa Tengah yang dipulangkan dari Aceh Tengah karena terdampak bencana Aceh.
Mereka dipulangkan menggunakan pesawat Hercules. Ke-18 orang tersebut terdiri atas 16 orang warga Cilacap dan masing-masing satu orang warga Brebes dan Pemalang.
”Secara umum warganya sehat, mudah-mudahan nanti perjalanan juga lancar dan segera sampai di kampung halaman masing-masing. Kami juga terus berkoordinasi dengan BPBD Aceh, apakah masih ada warga asal Jateng di sana, terus akan kami update,” katanya.
Sebelumnya, Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, Pemprov Jateng berkomitmen memberikan perlindungan dan keselamatan kepada warganya di manapun berada, termasuk warga yang berada di perantauan dan terdampak bencana.
”Semuanya kita bantu. Dari segi transportasi kita bantu, bahkan nanti kembali ke daerahnya kita kasih modal usaha biar nanti bisa berusaha. Minimal mereka nanti pulang ke kampung bisa recovery di wilayah masing-masing,” katanya beberapa waktu lalu.