Curah Hujan Tinggi, Pemkab Batang Imbau Warga di Pegunungan Waspada
Zulkifli Fahmi
Selasa, 13 Januari 2026 17:31:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Batang – Pemkab Batang, Jawa Tengah mengimbau masyarakat di wilayah pegunungan untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap potens bencana tanah longsor. Itu mengingat tingginya intensitas curah hujan yang terjadi belakangan ini.
Kepada Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Batang Wawan Nurdiansyah, mengatakan pihaknya terus memperkuat upaya mitigasi tanah longsor. Terutama di sejumlah lokasi rawan seperti Kecamatan Bawang, Tersono, Blado, dan Reban.
”Warga di wilayah tersebut kami berikan edukasi sebagai langkah utama untuk meningkatkan kewaspadaan terutama saat musim hujan,” katanya, seperti dikutip dari Antara, Selasa (13/1/2026).
Wawan menekankan pentingnya masyarakat memahami pontensi bencana yang cukup tinggi agar mampu hidup berdampingan dengan ancaman bencana.
”Relokasi memang menjadi solusi paling ideal bagi warga yang tinggal di zona rawan longsor. Akan tetapi, dalam praktiknya tidak mudah karena ada keterikatan dengan tanah kelahiran dan sumber penghidupan mereka,” katanya.
Sebagai langkah alternatif, pihaknya mendorong masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tanda-tanda alam, seperti munculnya retakan tanah atau perubahan kondisi lingkungan.
”Edukasi ini terus kami lakukan agar warga dapat mengambil langkah cepat sebelum bencana terjadi,” katanya.
Ia mengungkapkan, saat ini ada sekitar delapan keluarga di Desa Pranten yang memilih mengungsi secara mandiri ke rumah kerabatnya saat musim hujan. Mereka nantinya kembali ke rumah masing-masing ketika kondisi dinilai lebih aman.
”Ini adalah sebagai bentuk kesadaran masyarakat yang patut diapresiasi. Mereka sudah memahami risiko dan tahu kapan harus mengungsi ndan kapan harus menghuni lagi di lokasi yang aman,” katanya.



