Di kesempatan itu, ia juga menyorot pentingnya menjaga kualitas ikan agar tetap segar dan aman dikonsumsi. Rantai pasok dingin, baik dari ikan ditangkap dari laut atau budidaya, sampai ke menu anak-anak menjadi perhatiannya.
”Dan memang pengolahannya banyak yang sudah berhasil karena memenuhi sertifikat. Kita berharap tidak terjadi lagi keracunan, khususnya dari ikan, karena kita memberikan perhatian kepada rantai pasoknya,” imbuh dia.
Ia pun optimis, harga ikan dapat mencukup anggaran MBG per porsinya. Sebab, harga ikan relatif terjangkau dan bisa jadi alternatif sumber protein selain ayam.
”Ikan itu sebenarnya harganya terjangkau. Apalagi yang sudah diolah, dibumbuin, dipotong, dicabut tulang, cabut kulit, diolah tambahin tepung, bumbu, harganya masuk,” kata dia.
Dia menambahkan, penyediaan menu ikan dalam MBG di Jateng juga didorong dengan adanya kampung nelayan merah putih dan bioflock yang dibangun di Jateng.
”Di Jawa Tengah ada lima kampung nelayan merah putih sudah dibangun, ada di Pati, Jepara, Purworejo, sama Kebumen. Dibangun juga bioflock tematik untuk ikan lele dan ikan nila,” terangnya
Murianews, Semarang – Menu ikan bakal disajikan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama dua kali sepekan. Percontohan menu pengembangan ini akan di awali di Jawa Tengah (Jateng).
Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Dandy Satria Iswara mengatakan, dipilihnya Jateng jadi percontohan karena memiliki SPPG hingga 3.741 titik yang telah beroperasi.
”Jawa Tengah luar biasa dukungannya untuk MBG. SPPG-nya termasuk yang paling banyak, banyak yang sudah dapat sertifikasi. Kami mencoba melihat Jawa Tengah ini sebagai pilot project,” kata Dandy seperti dikutip dari Detik.com, Senin (13/4/2026).
Nantinya, pihaknya akan menghubungkan unit pengolahan ikan dan produk ikan para UMKM untuk menyuplai SPPG. Dengan begitu diharapkan bakal banyak menu ikan dalam MBG.
”Kalau yang kami dengar sudah banyak SPPG langsung berhubungan dengan UMKM. Ke depannya kita berharap, kalau bisa semua SPPG selalu konsisten memasukkan menu ikan dalam menu MBG setiap hari,” urainya.
Ia menyebut, upaya ini menjadi bagian dari program Gemar Makan Ikan yang juga digalakkan pemerintah. Menurutnya, bila nantinya disetujui, menu ikan dalam MBG akan disajikan dua kali sepekan secara nasional.
Dandy menyebut, saat ini frekuensi menu ikan dalam MBG di berbagai daerah masih bervariasi, yakni sepekan atau dua pekan sekali. Namun, untuk rencana sepekan dua kali, pihaknya masih menunggu.
”Karena kekuatan hulunya (regulasi) juga harus kita siapkan. Unit pengolahan ikan harus siap menghadapi ini. Baik infrastrukturnya, sertifikasinya,” ucapnya.
Di kesempatan itu, ia juga menyorot pentingnya menjaga kualitas ikan agar tetap segar dan aman dikonsumsi. Rantai pasok dingin, baik dari ikan ditangkap dari laut atau budidaya, sampai ke menu anak-anak menjadi perhatiannya.
”Dan memang pengolahannya banyak yang sudah berhasil karena memenuhi sertifikat. Kita berharap tidak terjadi lagi keracunan, khususnya dari ikan, karena kita memberikan perhatian kepada rantai pasoknya,” imbuh dia.
Ia pun optimis, harga ikan dapat mencukup anggaran MBG per porsinya. Sebab, harga ikan relatif terjangkau dan bisa jadi alternatif sumber protein selain ayam.
”Ikan itu sebenarnya harganya terjangkau. Apalagi yang sudah diolah, dibumbuin, dipotong, dicabut tulang, cabut kulit, diolah tambahin tepung, bumbu, harganya masuk,” kata dia.
Dia menambahkan, penyediaan menu ikan dalam MBG di Jateng juga didorong dengan adanya kampung nelayan merah putih dan bioflock yang dibangun di Jateng.
”Di Jawa Tengah ada lima kampung nelayan merah putih sudah dibangun, ada di Pati, Jepara, Purworejo, sama Kebumen. Dibangun juga bioflock tematik untuk ikan lele dan ikan nila,” terangnya