Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Magelang – Dinas Pertanian dan Pangan (Distan Pangan) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, terus berupaya memunculkan varietas pertanian yang memiliki keunggulan. Salah satunya adalah varietas kelapa upat-upat yang ada di Desa Banyuadem, Kecamatan Srumbung.

Seperti yang dilakukan beberapa waktu lalu dengan mendaftarkan enam varietas unggul lokal, yaitu tembakau, alpukat, durian, dan pisang. Pemkab Magelang mendapat penghargaan dari Kementerian Pertanian, yaitu kabupaten dengan usulan varietas unggul lokal sebagai upaya mengamankan plasma nutfah di daerahnya.

”Kami terus berupaya agar keunggulan dari Kabupaten Magelang dapat tereksplor, salah satunya adalah varietas kelapa upat-upat yang ada di Desa Banyuadem Kecamatan Srumbung,” kata Kepala Distan Pangan Kabupaten Magelang Romza Ernawan, dilansir dari laman Pemkab Magelang, Selasa (1/10/2024).

Dijelaskan Romza, kelapa upat-upat tersebut sudah masuk dalam varietas unggul lokal milik Pemkab Magelang. Saat ini, pihaknya tengah berupaya bekerja sama dengan berbagai lembaga dari BSIP Palma, BRIN dan Balai Besar Kelapa Indonesia agar bisa menjadi varietas unggul nasional.

Romza berharap usulan kelapa upat-upat menjadi varietas unggul nasional dapat terealisasi karena dari berbagai penelitian, komoditas ini memiliki ukuran terbesar se-Indonesia.

”Saat ini kelapa upat-upat ini ada 1.893 pohon induk terpilih (PIT) di Desa Banyuadem dan sekitarnya. Namun, sebagian besar ada di Desa Banyuadem,” imbuh Romza.

Selama ini kelapa upat-upat digunakan oleh masyarakat untuk konsumsi rumah tangga, pembuatan minyak kelapa, dan pengembangan bibit lokal.

”Untuk teman-teman petani kelapa yang memiliki PIT agar bersabar karena benih yang beredar di masyarakat baru kami upayakan berlabel dan bersertifikat varietas unggul nasional. Kami tengah berupaya untuk itu,” pungkasnya.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Jateng Terkini

Terpopuler