Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng, Defransisco Dasilva Tavares menjelaskan hingga awal April 2026 sejumlah indikator produksi pangan menunjukkan tren positif.
Pada komoditas padi, dari target 10.559.679 ton gabah kering giling (GKG), realisasinya telah mencapai 4.169.353 ton atau sekitar 39,48 persen.
Sementara itu, produksi jagung dari target 3.700.000 ton telah mencapai 984.959 ton atau 26,62 persen. Adapun kedelai masih berada pada tahap awal, dengan realisasi 762 ton dari target 52.790 ton, atau sekitar 1,44 persen.
Untuk komoditas hortikultura, produksi bawang merah tercatat 144.705 ton dari target 617.015 ton (23,45 persen), sedangkan cabai mencapai 80.892 ton dari target 456.621 ton (17,72 persen).
Di sektor peternakan, produksi telur mencapai 238.154 ton dari target 917.863 ton (25,95 persen), daging 311.042 ton dari target 942.497 ton (33 persen), serta susu 17.928 ton dari target 76.570 ton (23,41 persen).
”Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi agar surplus ini bisa merata, dan menjaga stabilitas harga,” ujar Frans, sapaannya.
Murianews, Solo – Gubernur Jateng Ahmad Luthfi memastikan kondisi persediaan pangan di Jawa Tengah tetap aman, meski sejumlah wilayah terdampak bencana banjir.
Menurutnya, ketahanan pangan Jateng masih kuat. Sebab, produksi pangan di Jateng tetap surplus, bahkan mampu menopang kebutuhan nasional.
”Kondisi pangan kita surplus, jadi swasembada pangan kita kuat,” ujar Luthfi seusai menghadiri acara di Solo, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan skema perlindungan ketika ada areal sawah yang terdampak bencana. Tujuannya, agar para petani tidak menanggung kerugian sendirian.
”Kalau ada sawah yang terkena bencana, kita cover dengan asuransi Jamkrida, sehingga masyarakat petani kita bisa terangkat,” katanya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Jateng, neraca pangan daerah masih relative aman. Per Maret 2026, neraca beras Jawa Tengah tercatat surplus sebesar 702.409 ton.
Selain beras, surplus juga terjadi pada komoditas daging dan telur selama periode Januari–Maret 2026, sehingga kebutuhan masyarakat dinilai masih dapat terpenuhi.
Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng, Defransisco Dasilva Tavares menjelaskan hingga awal April 2026 sejumlah indikator produksi pangan menunjukkan tren positif.
Pada komoditas padi, dari target 10.559.679 ton gabah kering giling (GKG), realisasinya telah mencapai 4.169.353 ton atau sekitar 39,48 persen.
Sementara itu, produksi jagung dari target 3.700.000 ton telah mencapai 984.959 ton atau 26,62 persen. Adapun kedelai masih berada pada tahap awal, dengan realisasi 762 ton dari target 52.790 ton, atau sekitar 1,44 persen.
Untuk komoditas hortikultura, produksi bawang merah tercatat 144.705 ton dari target 617.015 ton (23,45 persen), sedangkan cabai mencapai 80.892 ton dari target 456.621 ton (17,72 persen).
Di sektor peternakan, produksi telur mencapai 238.154 ton dari target 917.863 ton (25,95 persen), daging 311.042 ton dari target 942.497 ton (33 persen), serta susu 17.928 ton dari target 76.570 ton (23,41 persen).
”Yang perlu menjadi perhatian berikutnya adalah distribusi agar surplus ini bisa merata, dan menjaga stabilitas harga,” ujar Frans, sapaannya.
Dalam mendukung pencapaian target produksi, Pemprov Jateng mengalokasikan berbagai program strategis pada 2026. Di antaranya, bantuan benih dan sarana produksi untuk padi seluas 47.200 hektare, jagung 3.200 hektare, kedelai 3.000 hektare, cabai 310 hektare, serta bawang merah TSS seluas 25 hektare.
Dari sisi infrastruktur, pemerintah merehabilitasi 334 paket jaringan irigasi tersier, dan membangun 75 paket irigasi perpipaan.
Modernisasi pertanian juga diperkuat melalui distribusi alat dan mesin pertanian, antara lain 100 unit rice transplanter, 86 unit traktor crawler, 30 unit traktor roda empat, 100 unit pompa air, 10 unit combine harvester, serta puluhan unit cultivator dan hand tractor.
Pada sektor perlindungan petani, program asuransi usaha tani padi mencakup 10.449 hektare lahan, serta asuransi tembakau seluas 10.000 hektare. Pemerintah juga mengalokasikan subsidi suku bunga bagi 800 paket pembiayaan petani.
Menurut Frans, pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga keberlanjutan sistem pertanian. Hal itu mencakup penguatan luas baku sawah, peningkatan indeks pertanaman, serta pemanfaatan teknologi pertanian.